Siapakah orang yang sombong?
Orang yang sombong adalah orang yang di beri penghidupan tapi tidak mau sujud pada yang menjadikan kehidupan itu iaitu Allah Rabbul Alaamin, Tuhan sekelian alam. Maka bertasbihlah segala apa yang ada di bumi dan langit pada TuhanNya kecuali jin dan manusia yang sombong diri.
Siapakah orang yang telah mati hatinya?
Orang yang telah mati hatinya adalah orang yang diberi petunjuk melalui ayat-ayat Qur'an, Hadits dan cerita2 kebaikan namun merasa tidak ada apa2 kesan di dalam jiwa untuk bertaubat.
Siapakah orang dungu kepala otaknya?
Orang yang dunggu kepala otaknya adalah orang yang tidak mau lakukan ibadat tapi menyangka bahwa Tuhan tidak akan menyiksanya dengan kelalaiannya itu dan sering merasa tenang dengan kemaksiatannya.
Siapakah orang yang kuat?
Orang yang kuat adalah orang yang dapat menahan kemarahannya ketika ia di dalam kemarahan.
Siapakah orang yang lemah?
Orang yang lemah adalah orang yang melihat akan kemaksiatan di depan matanya tidak sedikit pun ada kebencian di dalam hatinya akan kemungkaran itu.
Siapakah orang yang bakhil?
Orang yang bakhil lagi kedekut adalah orang yang berat lidahnya untuk membaca shalawat keatas junjungan Rasulullah s.a.w.
Siapakah orang yang buta?
Orang yang buta adalah orang yang tidak mau membaca dan meneliti akan kebesaran Al Qur'an dan tidak mau mengambil pelajaran daripadanya.
Siapakah orang yang tuli?
Orang yang tuli adalah orang yang di beri nasihat dan pengajaran yang baik namun tidak diindahkannya.
Siapakah orang yang sibuk?
Orang yang sibuk adalah orang yang tidak mengambil berat akan waktu sholatnya seolah-olah ia mempunyai kerajaan seperti kerajaan Nabi Sulaiman a.s.
Siapakah orang yang manis senyumanya?
Orang yang mempunyai senyuman yang manis adalah orang yang di timpa musibah lalu dia kata "Inna lillahi wainna illaihi rajiuun." Lalu sambil berkata,"Ya Rabbi Aku ridho dengan ketentuanMu ini", sambil mengukir senyuman.
Siapakah orang yang menangis airmata mutiara?
Orang yang menangis airmata mutiara adalah orang-orang yang sedang bersendiri lalu mengingat akan kebesaran Tuhan dan menyesal akan dosa-dosanya lalu mengalir airmatanya.
Siapakah orang yang kaya?
Orang yang kaya adalah orang yang bersyukur dengan apa yang ada dan tidak loba akan kenikmatan dunia yang sementara ini.
Siapakah orang yang miskin?
Orang yang miskin adalah orang tidak puas dengan nikmat yang ada sentiasa menumpuk-numpukkan harta.
Siapakah orang yang pandai?
Orang yang pandai adalah orang yang bersiap siap untuk hari kematiannya karena dunia ini berusia pendek sedang akhirat kekal abadi
Siapakah orang yang bodoh?
Orang yang bodoh adalah orang yang beriya-iya berusaha sekuat tenaga untuk dunianya sedangkan akhiratnya diabaikan.
Siapakah orang yang maju dalam hidupnya?
Orang yang maju dalam hidupnya adalah orang-orang yang senantiasa mempertingkat ilmu agamanya.
Siapakah orang-orang yang mundur hidupnya?
Orang yang mundur dalam hidupnya adalah orang yang tidak memperdulikan akan halal dan haramnya akan sesuatu perkara itu.
Siapakah orang yang gila itu?
Orang yang gila itu adalah orang yang tidak sembahyang karena hanya dua syarat saja yang memperbolehkan akan seorang itu meninggalkan sembahyang, pertama sekiranya ia haid dan kedua ketika ia tidak siuman akalnya.
Siapakah orang yang rugi?
Orang yang rugi adalah orang yang sudah sampai usia pertengahan namun masih berat untuk melakukan ibadat dan amal-amal kebaikkan.
Siapakah orang yang selalu ditipu?
Orang yang selalu di tipu adalah orang muda yang menyangka bahwa kematian itu berlaku hanya pada orang tua.
Siapakah orang yang paling cantik?
Orang yang paling cantik adalah orang yang mempunyai akhlak yang baik.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang paling luas?
Orang yang mempunyai rumah yang paling luas adalah orang yang mati membawa amal amal kebaikan di mana kuburnya akan di perluaskan saujana mata memandang.
Siapakah orang yang mempunyai rumah yang sempit lagi dihimpit?
Orang yang mempunyai rumah yang sempit adalah orang yang mati tidak membawa amal-amal kebaikkan lalu kuburnya menghimpitnya.
Siapakah orang yang mempunyai akal?
Orang yang mempunyai akal adalah orang-orang yang menghuni syurga kelak karena telah mengunakan akal sewaktu di dunia untuk menghindari siksa neraka.
Aku bernyanyi dalam hati, agar tak ada seorang pun yang tahu tembang apa yang kunyanyikan, kesedihan atau kebahagiaan
21 Juni 2013
Betapa Hebatnya Kebohongan
Jangan remehkan kebohongan.
Kekuatannya mampu meruntuhkan sebuah negara.
Kekuatannya pula banyak dipakai oleh raja-raja untuk tetap berada di atas tahta.
Maka, adalah naif, jika anda berkata, berbohong hanya dilakukan oleh anak-anak yang tertangkap basah membolos sekolah.
Berbohong adalah kekuatan besar, karena untuk berbohong manusia harus berkekuatan besar pula.
Diperlukan kecerdasan tinggi untuk menyusun ribuan argumentasi.
Dibutuhkan kekerasan otot baja untukmengubah fakta dan data nyata.
Bahkan, manusia harus memicikkan hatinya agar sebuah kebohongan menampakkan wajah kebenaran.
Lihatlah, untuk sebuah kebohongan manusia harus mengerahkan waktu dan usaha yang terbaik pula!
Sedangkan untuk bersikap jujur, manusia hanya perlu berlaku apa adanya.
Karena itu, jangan terkejut bila banyak orang melihat kebohongan lebih menawan daripada cahaya kejujuran.
Di dalam belitan hawa nafsu, kejujuran nyaris tak pernah laku.
Kekuatannya mampu meruntuhkan sebuah negara.
Kekuatannya pula banyak dipakai oleh raja-raja untuk tetap berada di atas tahta.
Maka, adalah naif, jika anda berkata, berbohong hanya dilakukan oleh anak-anak yang tertangkap basah membolos sekolah.
Berbohong adalah kekuatan besar, karena untuk berbohong manusia harus berkekuatan besar pula.
Diperlukan kecerdasan tinggi untuk menyusun ribuan argumentasi.
Dibutuhkan kekerasan otot baja untukmengubah fakta dan data nyata.
Bahkan, manusia harus memicikkan hatinya agar sebuah kebohongan menampakkan wajah kebenaran.
Lihatlah, untuk sebuah kebohongan manusia harus mengerahkan waktu dan usaha yang terbaik pula!
Sedangkan untuk bersikap jujur, manusia hanya perlu berlaku apa adanya.
Karena itu, jangan terkejut bila banyak orang melihat kebohongan lebih menawan daripada cahaya kejujuran.
Di dalam belitan hawa nafsu, kejujuran nyaris tak pernah laku.
16 Juni 2013
Cerita Ringan Tentang Kebosanan
Seorang tua yang bijak ditanya oleh tamunya.
Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"
Pak Tua :"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."
Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"
Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua :"Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua :"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan
seterusnya." Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu :"Contohnya?"
Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu :"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"
Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan.
Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.
Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.
Segala sesuatu berasal dari pikiran.
Berpikir bosan menyebabkan kau bosan.
Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."
Tamu :"Sebenarnya apa itu perasaan 'bosan', pak tua?"
Pak Tua :"Bosan adalah keadaan dimana pikiran menginginkan perubahan, mendambakan sesuatu yang baru, dan menginginkan berhentinya rutinitas hidup dan keadaan yang monoton dari waktu ke waktu."
Tamu :"Kenapa kita merasa bosan?"
Pak Tua :"Karena kita tidak pernah merasa puas dengan apa yang kita miliki."
Tamu :"Bagaimana menghilangkan kebosanan?"
Pak Tua :"Hanya ada satu cara, nikmatilah kebosanan itu, maka kita pun akan terbebas darinya."
Tamu :"Bagaimana mungkin bisa menikmati kebosanan?"
Pak Tua:"Bertanyalah pada dirimu sendiri: mengapa kamu tidak pernah bosan makan nasi yang sama rasanya setiap hari?"
Tamu :"Karena kita makan nasi dengan lauk dan sayur yang berbeda, Pak Tua."
Pak Tua :"Benar sekali, anakku, tambahkan sesuatu yang baru dalam rutinitasmu maka kebosanan pun akan hilang."
Tamu: "Bagaimana menambahkan hal baru dalam rutinitas?"
Pak Tua :"Ubahlah caramu melakukan rutinitas itu. Kalau biasanya menulis sambil duduk, cobalah menulis sambil jongkok atau berbaring. Kalau biasanya membaca di kursi, cobalah membaca sambil berjalan-jalan atau meloncat-loncat. Kalau biasanya menelpon dengan tangan kanan, cobalah dengan tangan kiri atau dengan kaki kalau bisa. Dan
seterusnya." Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa hari kemudian Tamu itu mengunjungi Pak Tua lagi.
Tamu :"Pak tua, saya sudah melakukan apa yang Anda sarankan, kenapa saya masih merasa bosan juga?"
Pak Tua :"Coba lakukan sesuatu yang bersifat kekanak-kanakan."
Tamu :"Contohnya?"
Pak Tua :"Mainkan permainan yang paling kamu senangi di waktu kecil dulu."
Lalu Tamu itu pun pergi.
Beberapa minggu kemudian, Tamu itu datang lagi ke rumah Pak Tua.
Tamu :"Pak tua, saya melakukan apa yang Anda sarankan. Di setiap waktu senggang saya bermain sepuas-puasnya semua permainan anak-anak yang saya senangi dulu. Dan keajaiban pun terjadi. Sampai sekarang saya tidak pernah merasa bosan lagi, meskipun di saat saya melakukan hal-hal yang dulu pernah saya anggap membosankan. Kenapa bisa demikian, Pak Tua?"
Sambil tersenyum Pak Tua berkata:
"Karena segala sesuatu sebenarnya berasal dari pikiranmu sendiri, anakku. Kebosanan itu pun berasal dari pikiranmu yang berpikir tentang kebosanan.
Saya menyuruhmu bermain seperti anak kecil agar pikiranmu menjadi ceria.
Sekarang kamu tidak merasa bosan lagi karena pikiranmu tentang keceriaan berhasil mengalahkan pikiranmu tentang kebosanan.
Segala sesuatu berasal dari pikiran.
Berpikir bosan menyebabkan kau bosan.
Berpikir ceria menjadikan kamu ceria."
Ketika Ruh dan Ragaku Berpisah
Kehidupan manusia di dunia, tak ubahnya sebuah perjalanan yang pasti ada akhirnya. Akhir dari perjalananku di dunia ini, untuk selanjutnya memulai sebuah perjalanan baru ke negeri yang masih asing? Itulah kematian. Kematianlah, akhir kisah hidup di dunia.
Lalu, adakah aku siap menjumpainya ketika malaikat pencabut nyawa sudah datang menjemput? Adakah aku siap ketika kain kafan akan membungkus tubuhku? Adakah aku siap ketika tubuhku akan diturunkan ke liang lahat? Ketika papan-papan menutup jasad, ketika gumpalan tanah menimbun, apakah aku siap? Aku pasti mati. Aku pasti berpisah dengan ibu bapakku. Merekakah yang akan berpulang lebih dulu? Ataukah malah aku yang mendahului mereka? Aku pasti berpisah dengan orang yang aku sayang. Betapapun aku teramat sayang kepadanya, Alloh pasti membuat kematian yang akan mengakhiri segalanya.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati! Dan sakaratul maut itu sakit sekali, kambing saja yang tidak mempunyai dosa apapun, ketika disembelih, Alloh memperlihatkan kepada kita, betapa sulitnya ia meregang nyawa. Ayam adalah mahluk Alloh yang selalu bertasbih, dan karena itu ia bersih dari dosa. Tetapi, ketika disembelih betapa ia menggelepar-gelepar tanda teramat sakitnya melepas nyawa.
Aku pun demikian halnya. Semakin busuk diriku ketika hidup, mungkin saat-saat tercerabutnya nyawa dari badan akan merupakan saat-saat yang teramat pahit dan menderita. Tubuh ini laksana dibelit kawat berduri yang menghunjam ke setiap bagian otot, kemudian ditarik, sehingga tercabik-cabik dan tercerabut dari tulang.
Aku pasti akan meninggalkan segala yang apa aku cintai. Hanya kain kafan yang menemani. Mungkin saat-saat aku meninggal, orang-orang menangis, tapi mungkin juga sebaliknya, menertawakan. Jasad yang terbujur kaku pun dengan tanpa daya diusung orang menuju liang kubur. Ya, disanalah rumah terakhirku. Tidak ada yang aku bawa.
Aku akan dibaringkan menghadap kiblat. Kain kafan dibuka sedikit pada wajahku agar menyentuh tanah. Papan-papan pun akan mempersempit ruang lahat. Kemudian, pelan-pelan tanah akan menutup dang menghimpit, hingga tak ada sedikit pun ruang yang tersisa. Mungkin yang akan menimbunkan tanah itu justru orang-orang yang paling aku cintai.
Semakin lama semakin gelap dan pekat. Aku tak lagi mempunyai teman, selain amal baik. Harta, pangkat, jabatan, yang mati-matian kita cari sampai tidak ingat shalat, tidak ingat shaum, tidak ingat zakat. Semuanya tidak ada yang mampu menolong kita.
Saat itulah aku akan mempertanggungjawabkan segala apa yang pernah diperbuat di dunia. "Hai dungu," demikian mungkin aku disergah. "Mengapa engkau begitu zhalim kepada dirimu sendiri? Kepalamu tidak pernah kau gunakan untuk bersujud. Yang melingkar-lingkar dalam otakmu hanya urusan dunia belaka. Padahal ternyata semua itu tidak bisa kau bawa. Tanganmu berlumur aniaya, sedang berderma menolong sesama tidak pernah ada. Matamu bergelimang maksiat, sedang Al-Qur'an tidak pernah kau singkap dan kau lihat. Di telingamu hanya berdenging musik sia-sia dan kata-kata penuh maksiat, sedang kebenaran tak sedikit pun kau simak meski sesaat. Kenapa keningmu hanya kau dongakkan penuh keangkuhan, tetapi tidak sekalipun kau letakkan di atas sajadah kepasrahan?"
Mungkin saat itulah aku melolong-lolong menjerit penuh penyesalan. Ketika itulah akan kita rasakan gemeretaknya tulang-belulang di sekujur tubuh hancur luluh dihimpit oleh kubur yang teramat benci kepada jasad yang sarat bergelimang dosa.
Lalu, adakah aku siap menjumpainya ketika malaikat pencabut nyawa sudah datang menjemput? Adakah aku siap ketika kain kafan akan membungkus tubuhku? Adakah aku siap ketika tubuhku akan diturunkan ke liang lahat? Ketika papan-papan menutup jasad, ketika gumpalan tanah menimbun, apakah aku siap? Aku pasti mati. Aku pasti berpisah dengan ibu bapakku. Merekakah yang akan berpulang lebih dulu? Ataukah malah aku yang mendahului mereka? Aku pasti berpisah dengan orang yang aku sayang. Betapapun aku teramat sayang kepadanya, Alloh pasti membuat kematian yang akan mengakhiri segalanya.
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati! Dan sakaratul maut itu sakit sekali, kambing saja yang tidak mempunyai dosa apapun, ketika disembelih, Alloh memperlihatkan kepada kita, betapa sulitnya ia meregang nyawa. Ayam adalah mahluk Alloh yang selalu bertasbih, dan karena itu ia bersih dari dosa. Tetapi, ketika disembelih betapa ia menggelepar-gelepar tanda teramat sakitnya melepas nyawa.
Aku pun demikian halnya. Semakin busuk diriku ketika hidup, mungkin saat-saat tercerabutnya nyawa dari badan akan merupakan saat-saat yang teramat pahit dan menderita. Tubuh ini laksana dibelit kawat berduri yang menghunjam ke setiap bagian otot, kemudian ditarik, sehingga tercabik-cabik dan tercerabut dari tulang.
Aku pasti akan meninggalkan segala yang apa aku cintai. Hanya kain kafan yang menemani. Mungkin saat-saat aku meninggal, orang-orang menangis, tapi mungkin juga sebaliknya, menertawakan. Jasad yang terbujur kaku pun dengan tanpa daya diusung orang menuju liang kubur. Ya, disanalah rumah terakhirku. Tidak ada yang aku bawa.
Aku akan dibaringkan menghadap kiblat. Kain kafan dibuka sedikit pada wajahku agar menyentuh tanah. Papan-papan pun akan mempersempit ruang lahat. Kemudian, pelan-pelan tanah akan menutup dang menghimpit, hingga tak ada sedikit pun ruang yang tersisa. Mungkin yang akan menimbunkan tanah itu justru orang-orang yang paling aku cintai.
Semakin lama semakin gelap dan pekat. Aku tak lagi mempunyai teman, selain amal baik. Harta, pangkat, jabatan, yang mati-matian kita cari sampai tidak ingat shalat, tidak ingat shaum, tidak ingat zakat. Semuanya tidak ada yang mampu menolong kita.
Saat itulah aku akan mempertanggungjawabkan segala apa yang pernah diperbuat di dunia. "Hai dungu," demikian mungkin aku disergah. "Mengapa engkau begitu zhalim kepada dirimu sendiri? Kepalamu tidak pernah kau gunakan untuk bersujud. Yang melingkar-lingkar dalam otakmu hanya urusan dunia belaka. Padahal ternyata semua itu tidak bisa kau bawa. Tanganmu berlumur aniaya, sedang berderma menolong sesama tidak pernah ada. Matamu bergelimang maksiat, sedang Al-Qur'an tidak pernah kau singkap dan kau lihat. Di telingamu hanya berdenging musik sia-sia dan kata-kata penuh maksiat, sedang kebenaran tak sedikit pun kau simak meski sesaat. Kenapa keningmu hanya kau dongakkan penuh keangkuhan, tetapi tidak sekalipun kau letakkan di atas sajadah kepasrahan?"
Mungkin saat itulah aku melolong-lolong menjerit penuh penyesalan. Ketika itulah akan kita rasakan gemeretaknya tulang-belulang di sekujur tubuh hancur luluh dihimpit oleh kubur yang teramat benci kepada jasad yang sarat bergelimang dosa.
08 April 2013
Kegelapan Itu Adalah Dirinya
Jubah hitam terurai dari cakrawala
timur hingga ufuk barat. Bumi masih teratur memalingkan wajahnya dari bintang galaksi
bersinar yang sejak dulu menyinari wajah sang bumi. Gerombolan awan sedang
pergi entah kemana, dan langitpun bisa menunjukan kekiranaannya. Gemerlap
berjuta bintang jauh berserakkan teratur, berdiam pada posisinya masing-masing
dan membentuk sesuatu yang biasa disebut rasi bintang. Fisik bulan bak keju
bulat yang digantung. Pantulan sinar mentari menghiasi wajahnya yang membuat
dia tampak syahdu.
Katak dan jangkrik berkolaborasi
bernyanyi dengan suara khasnya masing-masing yang telah ditetapkan oleh Tuhan.
Burung hantu mengiringinya dengan suara yang khas pula, walaupun agak
menyeramkan. Angin sepoy-sepoy memaksa dedaunan untuk ikut berkolaborasi
memainkan music simponinya. Malam ini, entah hari apa dan tanggal berapa, yang
jelas suasana malam ini begitu indah.
Anak kecil riang menghangatkan
jalanan kampung. Mereka baru pulang pengajian. Saling tarik sarung
masing-masing. Saling lempar kopyah masing-masing. Bercanda. Tertawa lepas.
Saling berlarian meninggalkan satu sama lain. Berlarian karena takut oleh
sesuatu. Hantu? Yaa, mungkin. Anak kecil biasanya takut oleh cerita hantu yang
belum tentu benar.
Di sebuah kamar, di rumah yang
terdapat di daerah perkampungan Manonjaya, orang itu masih tertidur, tak terjaga.
Dia tertidur dalam pelukan gelisah pukul pukul dua siang tadi.
“Sial! Lagi-lagi aku terbangun.”
Remaja berumur delapan belas tahun
itu terganggu oleh suara riang anak-anak, terbangun dari tak terjaganya. Rambut gondrong berantakan. Kulit putih
kemerah-merahan dan agak aneh. Nafas bau minuman keras. Mata merah kelam cukup
untuk menunjukkan kepedihannya. Tanpa baju, hanya jeans rombeng penuh dengan
tambalan kain yang menutupi setengah tubuhnya. Postur tubuh kurus kering,
tulang menonjol tak terlapisi daging, tubuh itu digerogoti oleh derita hidup,
pipinya agak tembem, itu adalah efek dari infusan. Waktu kelas satu SMP dia pernah
tertabrak mobil, luka parah, tapi sepertinya Tuhan masih menginginkannya hidup
di dunia yang fana ini. Tidak ada pendarahan di otaknya, meskipun dia harus
menginap dan tak sadarkan diri di Rumah Sakit selama dua minggu lebih.
Setidaknya sekarang dia masih hidup.
Kamar berantakan. Abu rokok
berserakan. Pakaian kotor tergeletak tak teratur. Buku-buku tebal dan tipis
menumpuk, satu buku bersmpul putih terpisah dari tumpukan buku lainnya. Gambar
dan lukisan abstrak terpampang di dinding kamar yang kotor dan penuh dengan
debu. Coretan aksara tersurat bersisian dengan gambar dan lukisan. Cahaya yang
sangat redup memancar dari sebuah lampu kecil dalam toples keramik transparan.
Kamarnya begitu pengap, entah sudah berapa lama dia tak membuka jendela kamar.
Dia selalu mengunci jendelanya, begitu juga dengan pintu kamarnya.
Diambil sebatang rokok filter.
Cricket bergambar batik dalam genggaman tangan yang penuh dengan bekas dosa. Dengan
satu gesekkan api kecil itu sudi nyala untuk membakar sebatang tembakau yang
membuat paru dan jantungnya kadang terasa nyeri.
“Sepuuuuh.”
Menghembus bersama beban. Walaupun
asap rokok bisa membuat paru-parunya hitam, tapi setidaknya itu bisa membuatnya
sedikit lebih tenang, tapi membuatnya menjadi ketergantungan. Walaupun hanya
sedikit dan sesaat. Separuh masuk ke dalam rongga paru, menempel dan merusak, separuh
berhembus keluar bersama sedikit beban yang telah lama menindih jiwanya.
Untunglah organ tubuhnya itu masih bisa meredam efek racun yang terkandung
dalam tembakau.
Pikirannya melayang. Menembus
dinding tulang tengkorak yang melindungi kepalanya. Sukmanya terbang
mengepakkan sayap hitam yang bergantungkan keresahan. Resah yang selalu menari
pilu bersama gelisah. Alunan kelam merdu mengiringi tarian kedua rasa itu. Menyusuri sesaknya lorong
takdir yang jauh. Dia pergi untuk bertengkar dan berdebat dengan berjuta
masalah yang selama ini setia mengambang dan melayang-laying dalam dunia
sepinya. Suhunya begitu dingin, membekukan sayap hitamnya yang rapuh dan diapun
kembali terjatuh ke dalam jurang putus asa. Atmosfer terasa hampa. Suasana amat
kelam dan mencekam. Sesak.
Orang itu berjalan terhuyung menuju
jendela kamar pengapnya. Menyingkap gordeng hitam penuh debu yang menutupi
jendela kamarnya, tapi tidak dengan jendelanya yang sudah mulai buram. Bersama
rokok yang tinggal setengah, dia memandang langit malam yang begitu mempesona.
Namun keelokkan langit tak mampu membuatnya berdamai dengan takdir yang
digariskan padanya. Matanya yang merah kelam berkaca-kaca. Sorotan matanya
tajam penuh dengan kekesalan dan kebencian. Menerawang jauh menembus angkasa
luar. Menggertak hidupnya.
“Sampai kapan resah ini mengikuti
ku?”
“Ayah, ini nasi gorengnya udah
matang.”
“Tolong anterin kesini, lagi seru
nih, PERSIB menang dengan skor 2-0”
Seorang ibu-ibu cantik yang sudah
berkepala empat tengah memasak nasi goreng untuk imam yang dicintainya. Postur
tubuh tidak gendut, tidak juga langsing. Rambut ikal sepundak menghiasi
kepalanya. Agak tinggi. Ibu-ibu itu kerap dipanggil Bu Eem.
Ibu-ibu itu mengantarkan sepiring nasi
goreng matang pada suaminya. Memang itulah kewajiban seorang istri. Harus
mentaati suaminya. Tak boleh membangkang. Kecuali perintahnya melanggar aturan-aturan
langit.
Suaminya memiliki postur tubuh pendek.
Perut yang lumayan gendut. Bisa dibilang buncit. Kumis baplang menghiasi
wajahnya. Memiliki gaya rambut yang pendek dan rapih. Dan yang paling Bu Eem
suka dari suaminya adalah kepintarannya dalam bercanda. Pak Aceng, itulah nama
dari orang yang kini menjadi imamnya.
“Ini nasi gorengnya, Ayah. Gema sudah
bangun belum, Yah?”
“Makasih, bu. Tidak tahu. Coba lihat
di kamarnya.”
Bu Eem langsung menuju ke kamar
anaknya.
“Gema… Kamu udah bangun belum nak?”
Wanita separuh baya itu mengecek
anak pertamanya. Tapi anaknya tak memperdulikan panggilan Ibunya. Dia memilih
bungkam dan berdiam seorang diri di kamar pengapnya. Tapi sebernarnya dia tidak sendiri. Ada derita yang
setia menggerogoti tubuhnya. Resah yang setia mengikutinya kemanapun dia pergi.
Kebencian yang sudah tumbuh besar dalam hatinya. Hampa yang selalu hadir dalam
rasa. Kegelapan yang selalu menyelimuti jiwanya. Kelam yang rutin menghiasi
dunianya. Kesepian yang tak jenuh mengikat jiwanya. Setan yang selalu
menghembuskan kejahatan kedalam dadanya. Malaikat yang tak pernah lengah
mencatat amal buruk dan amal baiknya, dan Tuhan yang selalu mengawasinya.
“Gema… kamu sudah makan belum, Ibu
bikin nasi goreng nih?”
Anaknya masih tetap diam tak peduli.
Memilih bungkam atas masalah yang menimpa hidupnya.
Ah, yaa. Remaja berumur delapan
belas tahun itu bernama Gema. Dia duduk di bangku kelas dua SMA, di daerah
Manonjaya. Sudah beberapa tahun ke belakang dia minum minuman beralkohol, dan
akhir-akhir ini dia lebih sering mengonsumsinya. Make obat-obatan terlarang.
Menghisap ganja. Apapun yang bisa membuat otaknya mabuk dan tak sadar. Itu bisa
membuat raut mukanya tidak seperti orang yang memiliki masalah dan derita, bisa
membuatnya seperti orang yang ceria. Yaa, ceria dalam tak sadarnya. Dan alasan
yang paling utama kenapa dia mengonsumsi barang-barang haram itu, agar dia bisa
melupakan sedikit masalahnya. Tapi, tatkala rasa mabuknya sudah hilang, dia
kembali bersedih meratapi hidupnya. Meratapi takdir yang dia anggap sebagai
musuh. Hampir setiap hari dia seperti itu, sepulang sekolah selalu mengurung
diri di kamar pengapnya. Meratapi derita. Tidur dan tak berbuat kemanfaatan. Sungguh
nestapa. Sepertinya dia benar-benar terpuruk.
Bu Eem lekas pergi ke ruang TV dan
bergabung bersama suaminya. Dia berpikir bahwa anaknya kelelahan. Dia tidak
tahu anaknya sedang ditimpa masalah hidup yang lumayan serius. Bahkan
benar-benar serius. Sewaktu-waktu masalah itu bisa membuat anaknya jauh dari
Tuhan dan menjadi seorang kafir. Yang dia tahu, anaknya adalah remaja nakal yang
suka melanggar aturan sekolah. Tidak nurut sama orang tua. Dan cap kenakalan
lain yang lekat ada pada anaknya itu. Duduk bersebelahan dengan suaminya.
“Apa Gema tidak apa-apa, Yah?”
“Tidak apa-apa, Bu. Tenang saja, walaupun
dia punya masalah, dia pasti bisa menyelesaikannya. Percayalah padanya, Bu. Dia
bisa melakukan sesuatu yang luar biasa.”
Anaknya lahir sebagai bayi prematur.
Dia menginap dalam perut ibunya hanya lima bulan lebih tiga minggu. Dulu, bidan
yang membantu Ibu-ibu cantik itu melahirkan anak pertamanya bilang bahwa
anaknya mustahil utnuk hidup sampai usia dewasa. Kalaupun bisa, kemungkinannya
sangatlah kecil. Tapi, perkiraan bidan itu ternyata meleset, hingga hari ini
anak pertama pasangan suami istri itu masih hidup. Walaupun hidupnya sedang
berada dalam masalah.
Pak Aceng menenangkan perasaan istrinya
itu. Ternyata Bu Eem merasakan apa yang sedang terjadi pada anaknya. Sudah
sewajarnya seorang Ibu bisa merasakan apa yang sedang sedang terjadi pada
anaknya. Karena Ibu telah bersama kita sejak kita hanya segumpal darah dalam
rahim. Ibu yang menjaga kita. Ibu yang menghidupi kita. Ibu yang melahirkan
kita. Ibu yang mengayomi kita. Ibu yang merawat kita, Ibu adalah malaikat tanpa
sayap yang dengan tulus merawat kita sampai sekarang. Kita tak akan pernah bisa
membalas semua kebaikannya. Tak akan pernah bisa. Tapi, kita bisa membuatnya
bahagia. Kita bisa membuatnya merasa bahagia karena kita.
“Anak kita itu kuat, Bu. Lihatlah
kumis bapaknya, tebal begini.” canda Pak Aceng sambil mengelus-ngelus kumis
baplangnya.
“Bapak ini, bisa aja.” Bu Ede menjawabnya
sembari tersenyum.
Untunglah Pak Aceng bisa meredam
kekhawatiran istrinya.
`
Konflik berduri menusuk diri
Menangis merenung dalam kelam
Menjerit jiwa dalam kesendirian
Enggan ikhtiar tubuhku terpaku kealpaan
Tak berserah pada apapun,
Jiwaku menyerah pada kehampaan
Membuang guna umur jantung
Hati buta nihil kemanfaatan
Terselimut gelap hitam yang pekat
Kubakar harga umur dengan sebuah ketiadagunaan
Terbakar percuma waktuku berabu
Embuh kulepas belenggu alpa
Namun tak mampu, lemah tak berarti
Ragaku menentang jiwaku
Menolak jiwa tuk bangun
Menangis merenung dalam kelam
Menjerit jiwa dalam kesendirian
Enggan ikhtiar tubuhku terpaku kealpaan
Tak berserah pada apapun,
Jiwaku menyerah pada kehampaan
Membuang guna umur jantung
Hati buta nihil kemanfaatan
Terselimut gelap hitam yang pekat
Kubakar harga umur dengan sebuah ketiadagunaan
Terbakar percuma waktuku berabu
Embuh kulepas belenggu alpa
Namun tak mampu, lemah tak berarti
Ragaku menentang jiwaku
Menolak jiwa tuk bangun
Mata tajam menantang. Pikiran buncah
memuncak. Tekanan darah naik. Bibir tersenyum benci, seperti setan. Tangan
mengepal. Muka Gema semakin memerah.
“Haha.. HIDUP INI ADALAH KUTUKAN!”
Kalimat itu terlontar begitu saja.
Tanpa rasa takut akan kemarahan langit. Tanpa rasa takut akan kemarahan bumi.
Tanpa rasa takut dan malu akan Tuhan yang menciptakan hidup ini.
Kalimat itulah yang selalu terbersit
dalam hatinya. Terlontar dari mulutnya. Menggetarkan bumi. Menggemparkan
langit. Membuat kelelawar yang bersarang di pohon kelapa dekat rumahnya
berterbangan.
Tak lama setelah terlontar kalimat tak
senono itu, langitpun mendadak kelam. Mulai tersaput awan hitam. Sang rembulan
dan para bintang yang mempesona itu terhalang oleh kedatangan awan hitam pekat yang
membawa bulir air hujan. Awan itu bersuara. Yaa, awan itu dicambuk malaikat. Angin mulai meningkatkan kecepatannya. Lima
detik, sepuluh detik, dua puluh detik, turunlah hujan lebat yang disertai
dengan angin kencang dan petir yang menimbulkan kilat cahaya dan gelegar suara
cambuk malaikat.
Benar-benar mendadak. Tak terduga. Malam
yang indah telah berubah menjadi malam yang mengerikan. Raut muka langit yang
elok telah berubah menjadi langit yang membuat anak kecil menangis ketakutan.
Sepertinya Tuhan marah pada anak itu.
“Hoam… Sebaiknya aku tidur lagi,
masih banyak takdir pahit yang harus kujalani besok.” dengusnya benci dalam
hati.
Rokok yang sudah hampir mendekati
gabusnya dimatikan dengan menekankan ujungnya yang terbakar ke jendela dan
membuangnya sembarang. Lampu yang menyala redup dimatikan. Lantas kembali
terbaring di atas kasur empuk. Bersama resah, derita, dan hampa. Berselimutkan
kegelapan. Kegelapan abadi. Hanya ada satu emosi di dalamnya. Kegelapan yang
sangat pekat dan besar, meresap ke dalam setiap bagian tubuhnya. Itulah emosi
yang sudah mengasah dirinya selama ini. Semua emosi yang memberikan kesedihan
padanya, menjadi tak menentu.
Kegelapan adalah cahaya terang dalam pandangan buta,
dan buta adalah pandangan orang-orang mati, dan mati adalah kehidupan lain yang
penuh misteri dan misteri adalah kegelapan abadi. Lalu, apakah kegelapan abadi?
Yaa, dialah dirinya sendiri. Sudah sekian lama hatinya kosong menganga tak
berdarah, tak menyisakan apapun kecuali rusuk remuk yang kerap kali batuk. Nurani
yang ada pun semakin pekat berkabut. Bila saja dia toreh dadanya dan dia copot
jantungnya, akan terlihat ribuan rayap kehidupan yang sedang berpesta
menggerogoti jiwa yang keropos. Kemudian benang-benang keputusasaan mulai
tampak. Menjerat erat, membelit leher dan jemarinya. Dan pada akhirnya hanya
satu pilihan yang bisa dia lakukan, Mengampaki rayap-rayap kehidupan itu.
Meskipun dia rebah dan terhuyung berdarah.
Sunyi kurasa dalam lindungan
malam
Sepi menyiksa di bawah rembulan
Keindahan semu terus membayang
Memerangkap jiwa yang luka dalam dendam
Kedua kaki telah lelah mencari jalan
Kedua tangan telah lelah mencari pegangan
Sepasang mata tak lagi mampu menatap masa depan
Pikiranku tak mampu tuk menyelam,
Mencari jawaban dalam laut hitam
Hatiku telah merapuh dalam kegelapan
Dusta telah merajai hidupku
Neraka adalah tempat berpulangku
Akulah pungguk yang merindukan bulan
Iblis berwujud manusia yang merindukan rahmat Tuhan
Justru terpuruk dalam kutukan
Karena hati yang terus menyimpan dendam
Sepi menyiksa di bawah rembulan
Keindahan semu terus membayang
Memerangkap jiwa yang luka dalam dendam
Kedua kaki telah lelah mencari jalan
Kedua tangan telah lelah mencari pegangan
Sepasang mata tak lagi mampu menatap masa depan
Pikiranku tak mampu tuk menyelam,
Mencari jawaban dalam laut hitam
Hatiku telah merapuh dalam kegelapan
Dusta telah merajai hidupku
Neraka adalah tempat berpulangku
Akulah pungguk yang merindukan bulan
Iblis berwujud manusia yang merindukan rahmat Tuhan
Justru terpuruk dalam kutukan
Karena hati yang terus menyimpan dendam
Langganan:
Postingan (Atom)